Semua artikel
Investasi & Saham

Perbedaan Saham Syariah dan Saham Konvensional di IDX: Panduan Lengkap

29 Mei 2026 1239 kata

Investasi saham kini menjadi pilihan populer bagi masyarakat Indonesia untuk mengembangkan aset di masa depan. Sebagai instrumen pasar modal, saham menawarkan potensi keuntungan melalui dividen dan kenaikan harga saham (capital gain). Namun, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang religius, memilih instrumen investasi tidak hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga kepatuhan terhadap prinsip agama. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), investor dihadapkan pada dua pilihan utama, yakni saham syariah dan saham konvensional. Memahami perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX menjadi krusial agar investor dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan profil risiko maupun prinsip keyakinan mereka.

Meskipun keduanya diperdagangkan di bursa yang sama, terdapat batasan dan aturan khusus yang memisahkan kategori syariah dari konvensional. Artikel ini akan mengupas tuntas karakteristik masing-masing, kriteria penyaringan (screening), hingga cara memastikan bahwa saham yang Anda beli telah memenuhi kaidah ekonomi Islam.

Mengenal Konsep Dasar Saham Syariah dan Konvensional

Sebelum masuk ke poin teknis mengenai perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX, kita perlu memahami definisinya secara mendasar. Pada dasarnya, saham adalah bukti kepemilikan seseorang atau badan atas sebuah perusahaan.

Saham konvensional mencakup seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tanpa memandang jenis bisnis atau cara perusahaan tersebut mengelola keuangannya. Selama perusahaan tersebut memenuhi syarat pencatatan (listing) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan IDX, maka sahamnya dapat diperdagangkan secara bebas.

Sementara itu, saham syariah adalah saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang kegiatan usaha serta cara pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Prinsip ini berlandaskan pada Al-Qur'an dan Hadis yang diterjemahkan ke dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Jadi, perbedaan utama terletak pada kepatuhan terhadap hukum Islam dalam operasional perusahaan tersebut.

Kriteria Screening: Apa yang Membedakan Keduanya?

Salah satu aspek paling fundamental dalam memahami perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX adalah proses penyaringan atau screening. Tidak semua saham yang ada di bursa otomatis masuk ke dalam kategori syariah. OJK secara rutin mengeluarkan Daftar Efek Syariah (DES) dua kali setahun berdasarkan kriteria berikut:

1. Kriteria Jenis Kegiatan Usaha

Perusahaan yang ingin dikategorikan sebagai saham syariah tidak boleh menjalankan bisnis yang dilarang dalam Islam. Hal ini mencakup:

  • Perjudian dan permainan yang tergolong judi.
  • Lembaga keuangan konvensional yang berbasis bunga (riba), seperti bank konvensional dan asuransi konvensional.
  • Produksi atau distribusi barang yang haram, seperti minuman keras (alkohol), daging babi, atau rokok (pada beberapa klasifikasi tertentu).
  • Bisnis yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan perjudian (maysir).

Pada saham konvensional, batasan ini tidak berlaku. Investor saham konvensional bisa membeli saham bank besar, produsen minuman beralkohol, atau perusahaan rokok tanpa adanya batasan religius dari pihak otoritas bursa.

2. Kriteria Rasio Keuangan

Selain jenis usaha, terdapat kriteria finansial yang ketat untuk saham syariah. Ini adalah titik perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX yang sering kali tidak disadari oleh investor pemula.

  • Rasio Utang Berbasis Bunga: Total utang yang berbasis bunga tidak boleh lebih dari 45% dibandingkan total aset perusahaan. Ini dimaksudkan agar perusahaan tidak terlalu bergantung pada skema riba.
  • Rasio Pendapatan Non-Halal: Pendapatan yang berasal dari aktivitas tidak halal (seperti bunga bank atau selisih kurs) tidak boleh lebih dari 10% dari total pendapatan usaha.

Pada saham konvensional, sebuah perusahaan boleh memiliki utang (DER - Debt to Equity Ratio) yang sangat tinggi atau mendapatkan pendapatan dari sumber mana pun selama legal secara hukum negara.

Mekanisme Transaksi dan Akad

Perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX juga terlihat pada bagaimana transaksi dilakukan. Dalam investasi syariah, dikenal adanya Sistem Online Trading Syariah (SOTS).

Transaksi Tanpa Margin dan Short Selling

Dalam saham syariah, investor dilarang melakukan transaksi yang mengandung unsur spekulasi tinggi yang dilarang agama, seperti margin trading (membeli saham dengan uang pinjaman dari sekuritas) dan short selling (menjual saham yang belum dimiliki). Transaksi harus dilakukan secara tunai (cash basis) di mana investor hanya bisa membeli saham sebesar saldo uang yang dimiliki di Rekening Dana Nasabah (RDN).

Sebaliknya, pada saham konvensional, fasilitas margin dan short selling tersedia bagi investor yang memenuhi syarat tertentu dari perusahaan sekuritas. Hal ini memberikan fleksibilitas lebih besar bagi spekulan, namun juga meningkatkan risiko kerugian yang jauh lebih masif.

Prinsip Akad

Investasi saham syariah menggunakan prinsip akad musyarakah atau syirkah, di mana investor dan perusahaan melakukan kerja sama dengan skema bagi hasil. Risiko ditanggung bersama sesuai dengan porsi kepemilikan modal. Meskipun saham konvensional secara praktis juga merupakan penyertaan modal, namun aspek akad ini tidak diformalkan secara syariah dalam dokumen pendukungnya.

Indeks Saham sebagai Indikator Kinerja

Untuk mempermudah investor memantau kinerja, Bursa Efek Indonesia menyediakan berbagai indeks. Mempelajari indeks ini membantu kita melihat perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX secara visual melalui pergerakan harga.

  • Indeks Saham Konvensional: Indeks yang paling populer adalah IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang mencakup seluruh saham di bursa, serta LQ45 yang berisi 45 saham paling likuid.
  • Indeks Saham Syariah: Ada tiga indeks utama di Indonesia, yaitu:
    1. ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia): Mencakup seluruh saham syariah yang tercatat di DES dan BEI.
    2. Jakarta Islamic Index (JII): Berisi 30 saham syariah paling likuid dengan kapitalisasi pasar besar.
    3. JII70: Berisi 70 saham syariah paling likuid.

Adanya indeks khusus ini memudahkan investor yang ingin fokus pada instrumen halal tanpa harus melakukan screening mandiri terhadap ratusan emiten di bursa.

Keuntungan dan Risiko: Apakah Saham Syariah Lebih Unggul?

Banyak orang bertanya, apakah memahami perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX akan berpengaruh pada keuntungan?

Secara historis, saham syariah cenderung lebih resilien atau tahan banting saat terjadi krisis keuangan yang dipicu oleh sektor perbankan atau utang yang berlebihan. Hal ini dikarenakan pembatasan rasio utang 45% tadi. Perusahaan dengan utang kecil umumnya lebih stabil saat suku bunga naik.

Namun, di sisi lain, investor saham syariah kehilangan kesempatan untuk berinvestasi di sektor perbankan konvensional yang merupakan salah satu penggerak utama ekonomi Indonesia (seperti BBCA, BBRI, BMRI). Sektor perbankan seringkali memberikan dividen dan pertumbuhan yang sangat stabil. Inilah trade-off atau konsekuensi yang harus diterima oleh investor syariah.

Cara Berinvestasi Saham Syariah di Indonesia

Jika setelah memahami perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX Anda memutuskan untuk memilih jalur syariah, berikut langkah-langkah praktisnya:

  1. Pilih Sekuritas yang Memiliki SOTS: Pastikan perusahaan sekuritas tempat Anda mendaftar memiliki sistem Syariah Online Trading System. Saat ini sudah banyak sekuritas besar di Indonesia yang menyediakannya.
  2. Buka Rekening Syariah: Saat mendaftar, pilihlah akun syariah. Sistem ini secara otomatis akan menolak jika Anda mencoba membeli saham yang tidak masuk dalam Daftar Efek Syariah.
  3. Lakukan Analisis Fundamental: Meskipun saham tersebut sudah "halal", bukan berarti kinerjanya pasti bagus. Tetap lakukan analisis terhadap laporan keuangan, prospek bisnis, dan valuasi perusahaan.
  4. Diversifikasi: Jangan menaruh semua modal pada satu saham saja. Sebar investasi Anda di berbagai sektor yang masuk kategori syariah, seperti konsumsi, infrastruktur, atau tambang.

Kesimpulan: Memilih Sesuai Keyakinan dan Tujuan

Memahami perbedaan saham syariah dan saham konvensional di IDX adalah langkah awal yang cerdas bagi setiap investor. Saham syariah memberikan ketenangan pikiran (peace of mind) melalui kepatuhan pada nilai-nilai agama, pembatasan utang yang ketat, dan pelarangan aktivitas spekulatif yang berlebihan. Sementara itu, saham konvensional menawarkan cakupan sektor yang lebih luas, termasuk sektor keuangan yang dominan.

Pilihan akhirnya kembali kepada tujuan keuangan dan prinsip hidup masing-masing. Di Indonesia, pasar modal syariah terus berkembang pesat, menunjukkan bahwa investasi yang etis dan religius tetap bisa menghasilkan keuntungan yang kompetitif. Dengan edukasi yang tepat, siapa pun bisa meraih sukses di bursa saham, baik melalui jalur syariah maupun konvensional.

Jika Anda sedang menyusun tugas akhir atau penelitian mendalam mengenai analisis pasar modal dan membutuhkan bimbingan profesional, silakan hubungi jagojurnal.com melalui WhatsApp di 085643695389.

saham syariahsaham konvensionalBursa Efek Indonesiainvestasi syariahIDXpasar modal
Rekomendasi Aplikasi Investasi

Mulai investasi pakai aplikasi resmi OJK

Dua aplikasi populer di Indonesia yang kami rekomendasikan untuk pembaca pemula. Pakai kode referral di bawah saat daftar untuk dapat bonus dari mitra masing-masing.

Iklan / Afiliasi

Ajaib

Investasi & trading saham + reksa dana dalam satu aplikasi

Bonus untuk Anda
1 lot saham terpopuler GRATIS
Kode Referral
jasatbmc
Daftar di Ajaib
Iklan / Afiliasi

Bibit

Aplikasi reksa dana untuk pemula, modal Rp 10rb

Bonus untuk Anda
Cashback reksa dana Rp 25.000
Kode Referral
wmh1gku
Daftar di Bibit

Disclosure afiliasi: JagoJurnal dapat memperoleh komisi/bonus referral dari Ajaib dan Bibit jika Anda mendaftar melalui kode/link di atas, tanpa biaya tambahan bagi Anda. Investasi memiliki risiko — pahami sebelum berinvestasi. Selalu verifikasi izin OJK dan baca prospektus produk.

Butuh bantuan langsung untuk topik ini?

Tim editor JagoJurnal siap mendampingi Anda hingga karya ilmiah diterima.

Hitung Estimasi via WhatsApp

Artikel terkait