Cara Proofreading Jurnal Sendiri Sebelum Submit

Skripsi & Tesis Oleh admin · Juli 21, 2026

Proofreading adalah tahap akhir sebelum naskah dikirim ke jurnal atau kampus, dan sering dianggap remeh padahal kesalahan kecil seperti salah ketik, format sitasi yang tidak konsisten, atau kalimat ambigu bisa menurunkan penilaian reviewer bahkan sebelum isi substansi dibaca lebih dalam. Artikel ini membahas cara melakukan proofreading sendiri secara sistematis sebelum submit, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada jasa pihak ketiga.

Kenapa Proofreading Berbeda dari Editing

Banyak penulis pemula mencampuradukkan istilah proofreading dengan editing, padahal keduanya berbeda fokus. Editing biasanya menyentuh struktur argumen, alur logika antarparagraf, dan kekuatan pembahasan, sementara proofreading berfokus pada permukaan tulisan seperti ejaan, tanda baca, konsistensi istilah, dan format penulisan. Idealnya proofreading dilakukan setelah proses editing substansi selesai, karena mengecek ejaan pada draf yang masih akan banyak berubah strukturnya hanya membuang waktu.

Kesalahan yang Paling Sering Lolos dari Penulis Sendiri

💬 Butuh bantuan langsung? Chat tim JagoJurnal via WhatsApp

Penulis yang sudah terlalu familiar dengan naskahnya sendiri cenderung membaca apa yang menurut otaknya seharusnya ada di sana, bukan apa yang benar-benar tertulis. Karena itu, typo, kata yang berulang, atau kalimat yang belum selesai sering lolos meski sudah dibaca berkali-kali oleh penulis yang sama. Kesalahan semacam ini biasanya baru terlihat oleh pembaca lain, atau oleh penulis sendiri setelah jeda waktu yang cukup panjang dari saat menulis draf terakhir.

Teknik Membaca yang Membantu Menemukan Kesalahan

Ada beberapa teknik yang bisa membantu otak keluar dari mode “familiar” saat proofreading. Membaca naskah dari paragraf terakhir menuju paragraf pertama bisa membantu karena otak tidak lagi mengikuti alur cerita yang sudah dihafal. Mengubah tampilan naskah, misalnya mengganti jenis huruf atau ukuran font sementara, juga membantu mata menangkap detail yang biasanya terlewat karena pola visual yang sudah terlalu dikenali. Membaca naskah dengan suara keras, atau memanfaatkan fitur text-to-speech, sering mengungkap kalimat yang secara tata bahasa janggal meski terlihat baik-baik saja saat dibaca dalam hati. Jika memungkinkan, mencetak naskah ke kertas dan membacanya secara fisik juga terbukti membantu menemukan kesalahan yang terlewat di layar.

Checklist Konsistensi yang Wajib Dicek

Selain ejaan dan tanda baca, proofreading juga perlu memastikan konsistensi di seluruh naskah. Beberapa hal yang sering luput antara lain penggunaan istilah atau singkatan yang berbeda-beda untuk konsep yang sama, format penulisan angka dan satuan yang tidak seragam, penomoran tabel dan gambar yang meloncat atau tidak berurutan, serta judul tabel dan gambar yang tidak sesuai dengan isi sebenarnya. Membuat daftar istilah kunci beserta singkatannya di awal proses menulis akan sangat membantu menjaga konsistensi ini sampai naskah selesai.

Memanfaatkan Tools Pendukung Proofreading

Beberapa alat bisa membantu proses proofreading meski tidak bisa menggantikan ketelitian manusia sepenuhnya. Fitur pemeriksa ejaan dan tata bahasa bawaan pada Microsoft Word atau Google Docs cukup membantu menangkap kesalahan dasar. Untuk penulisan berbahasa Indonesia, memeriksa ejaan baku lewat KBBI daring dan aturan tanda baca lewat pedoman PUEBI akan membuat naskah lebih sesuai kaidah resmi. Untuk naskah berbahasa Inggris, alat pemeriksa tata bahasa daring bisa membantu menangkap kesalahan structure kalimat, meski hasilnya tetap perlu dibaca ulang secara manual karena alat semacam ini belum tentu memahami konteks akademik secara penuh.

Proofreading Bagian Referensi dan Sitasi

Bagian referensi sering menjadi sumber kesalahan yang luput dari perhatian karena dianggap bagian teknis semata. Periksa apakah setiap sitasi yang muncul di dalam teks benar-benar ada di daftar pustaka, dan sebaliknya, apakah setiap entri di daftar pustaka memang dikutip di dalam naskah. Pastikan format sitasi mengikuti gaya selingkung yang diminta jurnal atau kampus, baik itu APA, IEEE, Vancouver, maupun gaya lain, karena format yang tidak konsisten sering menjadi catatan revisi administratif yang menunda proses selanjutnya.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan Proofreading

Memberi jeda waktu antara selesai menulis draf akhir dan mulai proofreading akan membuat proses ini jauh lebih efektif. Idealnya ada jeda minimal satu hari, atau lebih lama jika waktu memungkinkan, supaya penulis membaca naskahnya dengan perspektif yang lebih segar dan objektif. Melakukan proofreading langsung setelah menulis draf akhir biasanya membuat otak masih terlalu terpaku pada apa yang ingin disampaikan, sehingga kesalahan kecil lebih mudah terlewat.

Melibatkan Pembaca Lain sebagai Pengecekan Tambahan

Meski proofreading mandiri sangat membantu, meminta rekan sejawat atau teman satu bidang membaca naskah sebelum submit tetap bernilai tinggi, karena mata yang belum terpapar naskah biasanya lebih cepat menangkap kalimat yang membingungkan atau bagian yang kurang jelas maksudnya. Pembaca lain juga bisa memberi masukan apakah alur argumen mudah diikuti oleh orang yang belum familiar dengan topik penelitian, sesuatu yang sulit dinilai objektif oleh penulis sendiri. Jika tidak ada rekan yang bisa dimintai tolong, membaca naskah dengan jeda beberapa hari dan mencoba memosisikan diri sebagai pembaca awam bisa menjadi alternatif yang cukup membantu.

Kesalahan Ejaan dan Tata Bahasa Indonesia yang Sering Ditemukan

Beberapa kesalahan ejaan dan tata bahasa Indonesia cenderung berulang di banyak naskah akademik, misalnya penulisan kata depan “di” yang tertukar dengan awalan “di-“, penggunaan kata “daripada” yang tidak tepat konteksnya, atau tanda hubung yang seharusnya dipakai untuk kata ulang tapi malah dihilangkan. Kesalahan lain yang sering muncul adalah penggunaan huruf kapital yang tidak konsisten pada istilah teknis, serta kalimat pasif yang terlalu panjang sehingga subjek dan predikatnya sulit ditelusuri pembaca. Menyusun daftar kesalahan yang paling sering dilakukan berdasarkan pengalaman menulis sebelumnya bisa menjadi panduan pribadi yang mempercepat proofreading pada naskah-naskah berikutnya.

Menyusun Waktu Proofreading dalam Jadwal Menulis

Memasukkan proofreading sebagai tahap tersendiri dalam jadwal menulis, bukan sekadar langkah dadakan sebelum deadline, akan membuat kualitas naskah lebih terjaga. Menyisihkan waktu satu sampai dua hari khusus untuk proofreading sebelum tenggat akhir submit memberi ruang untuk membaca ulang, memperbaiki temuan, lalu membaca sekali lagi untuk memastikan perbaikan tidak menimbulkan kesalahan baru. Kebiasaan ini terutama penting untuk naskah yang akan dikirim ke jurnal dengan proses review ketat, karena kesan pertama yang rapi dari sisi bahasa turut memengaruhi bagaimana reviewer menilai keseriusan penulis dalam menyiapkan naskahnya.

Kesimpulan

Proofreading mandiri yang dilakukan secara sistematis, dengan teknik membaca yang tepat dan checklist konsistensi yang jelas, bisa sangat membantu menghasilkan naskah yang lebih rapi sebelum submit. Meluangkan waktu untuk tahap ini akan mengurangi risiko revisi administratif yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Dengan membiasakan diri melakukan proofreading secara mandiri, penulis juga akan semakin peka terhadap pola kesalahannya sendiri, sehingga kualitas tulisan pada naskah-naskah berikutnya bisa terus meningkat seiring waktu. Menjadikan tahap ini sebagai kebiasaan, bukan formalitas terakhir, adalah investasi kecil yang dampaknya cukup besar bagi kredibilitas naskah di mata reviewer maupun pembaca.

admin, garuda
Kontributor · Riset Akademik & Publikasi Ilmiah

Tim Redaksi JagoJurnal menyusun panduan akademik berdasarkan riset kata kunci dan kebutuhan nyata pembaca seputar skripsi, tesis, dan publikasi jurnal ilmiah.

Butuh bantuan lebih lanjut?

Jangan biarkan revisi kecil menahan kelulusanmu

Tim JagoJurnal siap bantu bagian teknis yang paling sering bikin proses jadi lambat — bukan menulis ulang karyamu, tapi membantu kamu menyempurnakannya sendiri.

01Proofreading jurnal & makalah
02Bantuan editing & formatting skripsi & tesis
03Olah data & statistik (SPSS, Eviews, dll)
04Bantuan editing & formatting jurnal & makalah
Konsultasi gratis via WhatsApp

Konsultasi awal tanpa biaya. Respons cepat pada jam kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *