Cara Proofreading Jurnal Sendiri Sebelum Submit ke Reviewer
Kenapa Proofreading Mandiri Tetap Penting Meski Sudah Pakai Jasa
Naskah dengan gagasan penelitian yang kuat sekalipun bisa ditolak reviewer hanya karena kesalahan tata bahasa yang mengganggu keterbacaan. Sebelum memutuskan pakai jasa proofreading profesional, ada baiknya melakukan proofreading mandiri terlebih dahulu—selain menghemat biaya (karena naskah yang sudah rapi biasanya dikenakan tarif lebih murah oleh jasa proofreading), kamu juga akan lebih memahami kualitas tulisanmu sendiri.
Artikel ini membahas teknik proofreading mandiri yang bisa langsung dipraktikkan sebelum mengirim naskah ke reviewer, editor jurnal, atau jasa proofreading profesional.
Bedanya Proofreading, Editing, dan Copyediting
Tiga istilah ini sering tertukar padahal fokusnya berbeda:
- Proofreading — memeriksa kesalahan permukaan: typo, tanda baca, konsistensi format, penomoran.
- Copyediting — memeriksa tata bahasa, struktur kalimat, dan kejelasan makna, tapi tidak mengubah substansi argumen.
- Editing substantif — melibatkan perubahan struktur argumen, alur logika, bahkan penyusunan ulang bagian tertentu.
Untuk proofreading mandiri, fokus utama ada di dua kategori pertama—jangan sampai mengubah substansi argumen penelitian sendiri hanya karena “terasa kurang pas” tanpa alasan akademik yang jelas.
Teknik Praktis Proofreading Mandiri
1. Kenapa Membaca dengan Suara Keras Membantu?
Membaca naskah dengan suara keras membantu menangkap kalimat yang janggal atau terlalu panjang, yang sering terlewat kalau hanya dibaca dalam hati. Otak cenderung “mengoreksi otomatis” kesalahan kecil saat membaca dalam hati, tapi kesalahan itu lebih mudah terasa saat diucapkan.
2. Ubah Format Tampilan Sebelum Proofreading Ulang
Trik sederhana: ubah font, ukuran huruf, atau warna latar sebelum sesi proofreading berikutnya. Otak yang sudah terbiasa dengan tampilan lama cenderung melewatkan kesalahan karena sudah “hafal” bentuk halaman. Format baru membuat mata memproses ulang teks seolah baru pertama kali dibaca.
3. Cek Per Kategori Kesalahan, Bukan Sekali Baca Semua
Alih-alih membaca sekali dan berharap semua kesalahan tertangkap, lakukan beberapa kali baca dengan fokus berbeda:
- Baca pertama: fokus ke tanda baca dan ejaan saja.
- Baca kedua: fokus ke konsistensi istilah (misalnya, apakah “responden” dan “partisipan” dipakai konsisten atau tertukar-tukar).
- Baca ketiga: fokus ke struktur kalimat—apakah ada kalimat yang terlalu panjang atau ambigu.
- Baca keempat: fokus ke format—penomoran tabel, gambar, dan referensi.
4. Manfaatkan Tools Grammar Checker sebagai Lapisan Tambahan
Tools pengecekan tata bahasa otomatis bisa membantu menangkap kesalahan dasar, tapi jangan dijadikan satu-satunya andalan—alat ini sering salah menandai istilah teknis akademik sebagai kesalahan, dan sebaliknya bisa melewatkan kesalahan makna yang secara tata bahasa tetap “benar”.
5. Cetak dan Baca di Media Berbeda
Kalau memungkinkan, cetak naskah dan baca versi fisiknya, atau baca lewat perangkat berbeda (dari laptop ke tablet/HP). Perubahan media membantu otak melihat teks dengan “mata baru”.
Checklist Proofreading Sebelum Submit
- Konsistensi penggunaan istilah teknis dari awal sampai akhir naskah.
- Konsistensi format sitasi (jangan campur APA dan Chicago style dalam satu naskah).
- Penomoran tabel dan gambar berurutan dan sesuai dengan yang disebut di teks.
- Tidak ada kalimat yang terpotong atau referensi silang yang salah (misalnya “lihat Tabel 3” padahal tabelnya bernomor 4).
- Abstrak benar-benar mencerminkan isi keseluruhan naskah, bukan versi yang sudah usang dari draf sebelumnya.
- Semua singkatan dijelaskan kepanjangannya saat pertama kali muncul.
Membuat Daftar Kesalahan Pribadi yang Sering Berulang
Setiap penulis punya pola kesalahan khasnya sendiri—ada yang sering lupa konsisten memakai tanda hubung, ada yang sering tertukar antara kata “di” sebagai kata depan dan awalan, ada juga yang sering membuat kalimat terlalu panjang dengan banyak anak kalimat bersarang. Membuat catatan pribadi berisi kesalahan-kesalahan yang paling sering ditemukan oleh dosen pembimbing atau editor jurnal pada naskah-naskah sebelumnya bisa dijadikan checklist khusus. Sebelum submit naskah baru, cek dulu apakah pola kesalahan lama itu masih muncul—ini jauh lebih efektif dibanding mencoba mengecek semua jenis kesalahan sekaligus tanpa arah yang jelas.
Proofreading Khusus untuk Bagian yang Sering Diabaikan
Ada beberapa bagian naskah yang sering luput dari proofreading karena dianggap “tidak penting” dibanding isi utama, padahal reviewer tetap memperhatikannya:
- Judul dan sub-judul — pastikan konsisten dalam penggunaan huruf kapital dan format penomoran di seluruh naskah.
- Ucapan terima kasih (acknowledgment) — kesalahan penulisan nama institusi pemberi dana atau pihak yang disebutkan bisa terkesan tidak profesional.
- Daftar pustaka — cek apakah setiap sumber yang dirujuk di teks benar-benar ada di daftar pustaka, dan sebaliknya, tidak ada sumber di daftar pustaka yang tidak pernah dirujuk di teks.
- Keterangan gambar dan tabel (caption) — sering ditulis terburu-buru di akhir proses, padahal caption yang tidak jelas bisa membingungkan pembaca yang hanya melihat sekilas tabel/gambar tanpa membaca teks lengkap.
Kapan Sebaiknya Tetap Pakai Jasa Proofreading Profesional?
Proofreading mandiri sangat membantu terutama untuk kesalahan dasar dan kejelasan struktur, tapi ada situasi di mana bantuan profesional tetap bernilai:
- Naskah berbahasa Inggris untuk jurnal internasional, terutama kalau bahasa Inggris bukan bahasa utama penulis—penutur asli atau proofreader berpengalaman bisa menangkap nuansa yang sulit dirasakan penulis sendiri.
- Jurnal dengan reputasi tinggi yang standar bahasanya sangat ketat, di mana kesalahan kecil bisa memengaruhi kesan pertama reviewer.
- Deadline mepet di mana penulis sudah terlalu lelah untuk melihat naskahnya sendiri secara objektif.
Naskah yang sudah melalui proofreading mandiri terlebih dahulu biasanya lebih cepat diproses jasa proofreading profesional dan berpotensi biayanya lebih terjangkau, karena pekerjaan yang tersisa untuk mereka lebih sedikit.
Membangun Rutinitas Self-Editing Sebelum Deadline
Proofreading yang dilakukan terburu-buru di menit-menit terakhir cenderung kurang efektif karena penulis sudah lelah dan ingin cepat selesai. Sebaiknya alokasikan waktu khusus—idealnya 2-3 hari sebelum deadline submit—yang benar-benar didedikasikan hanya untuk proofreading, terpisah dari waktu menulis. Dengan begitu, energi dan fokus yang dipakai untuk mengoreksi naskah tidak tercampur dengan proses kreatif menulis, yang biasanya membutuhkan cara berpikir yang berbeda.
Memanfaatkan Jeda Waktu Antara Menulis dan Proofreading
Semakin lama jeda antara selesai menulis dan mulai proofreading, semakin objektif hasil koreksinya—dengan catatan tidak sampai melewati deadline tentunya. Kalau waktu memungkinkan, coba jadwalkan penyelesaian draf akhir minimal seminggu sebelum deadline submit, supaya ada cukup waktu untuk jeda 2-3 hari sebelum sesi proofreading serius dimulai. Penulis yang langsung proofreading di hari yang sama dengan selesai menulis cenderung masih “terjebak” dalam pola pikir penulisan, sehingga sulit melihat kejanggalan yang sebenarnya cukup jelas bagi pembaca baru.
Kesimpulan
Proofreading mandiri bukan pengganti proofreading profesional untuk naskah-naskah penting, tapi merupakan langkah awal yang sangat berharga sebelum mengirim naskah ke reviewer atau editor jurnal. Dengan teknik membaca bertahap, mengubah format tampilan, dan checklist yang konsisten, sebagian besar kesalahan dasar bisa ditemukan dan diperbaiki sendiri sebelum naskah benar-benar dinilai orang lain.
Pertanyaan Umum
Berapa kali sebaiknya proofreading dilakukan sebelum submit?
Idealnya minimal 3-4 kali baca dengan fokus berbeda setiap sesinya, ditambah jeda waktu 2-3 hari sebelum sesi terakhir.
Apakah grammar checker otomatis cukup untuk proofreading naskah akademik?
Tidak cukup sebagai satu-satunya alat, karena sering salah menandai istilah teknis; sebaiknya dikombinasikan dengan proofreading manual.
Apa bedanya proofreading dan editing substantif?
Proofreading fokus pada kesalahan permukaan seperti typo dan tanda baca, sementara editing substantif mengubah struktur argumen dan alur logika naskah.
Kapan naskah sebaiknya diserahkan ke jasa proofreading profesional?
Terutama untuk naskah bahasa Inggris ke jurnal internasional bereputasi tinggi, atau saat deadline sangat mepet dan penulis sudah kesulitan menilai naskahnya sendiri secara objektif. Butuh bantuan langsung dari tim ahli? Hubungi Tim JagoJurnal via WhatsApp di 0856-4369-5389 untuk konsultasi gratis.
Jangan biarkan revisi kecil menahan kelulusanmu
Tim JagoJurnal siap bantu bagian teknis yang paling sering bikin proses jadi lambat — bukan menulis ulang karyamu, tapi membantu kamu menyempurnakannya sendiri.
Konsultasi awal tanpa biaya. Respons cepat pada jam kerja.


Tinggalkan Balasan