Perbedaan Purposive Sampling Dan Accidental Sampling

Metodologi Penelitian Oleh admin · November 4, 2026

Memahami perbedaan purposive sampling dan accidental sampling sangat penting bagi mahasiswa serta peneliti sebelum mengumpulkan data lapangan. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu yang relevan dengan fokus riset. Di sisi lain, accidental sampling menentukan sampel secara kebetulan berdasarkan siapa saja yang dijumpai di lokasi penelitian pada waktu tersebut.

Poin Penting:

  • Purposive sampling menetapkan kriteria khusus bagi responden sesuai dengan tujuan penelitian.
  • Accidental sampling mengambil sampel secara spontan atau kebetulan tanpa kualifikasi yang ketat.
  • Kedua teknik ini tergolong ke dalam kategori non-probability sampling dalam metodologi riset.
  • Pemilihan teknik yang tepat memengaruhi validitas hasil analisis data pada karya ilmiah Anda.

Apa Perbedaan Purposive Sampling dan Accidental Sampling?

Perbedaan purposive sampling dan accidental sampling terletak pada dasar penentuan anggota sampel penelitian. Purposive sampling mengandalkan pertimbangan kriteria khusus yang disusun peneliti sesuai tujuan riset. Sementara itu, accidental sampling mengambil responden yang kebetulan ditemui di lokasi tanpa ada kriteria kualifikasi sebelumnya.

Dalam metodologi penelitian ilmiah, kedua metode ini tergolong ke dalam kelompok non-probability sampling. Artinya, setiap anggota populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Meskipun demikian, alasan penggunaan kedua teknik ini sangat berbeda dalam praktik akademik.

Selain itu, pemilihan teknik sampel yang salah dapat memengaruhi bobot ilmiah naskah Anda. Ketika Anda hendak menerbitkan artikel di jurnal yang terindeks SINTA, peninjau naskah pasti akan menelaah rasionalisasi metodologi ini. Oleh karena itu, Anda harus memahami karakteristik masing-masing metode secara komprehensif.

Apa Itu Purposive Sampling dan Kapan Digunakan?

💬 Butuh bantuan langsung? Chat tim JagoJurnal via WhatsApp

Purposive sampling adalah teknik penarikan sampel non-probabilitas yang menetapkan elemen sampel berdasarkan kriteria objektif penelitian. Peneliti menentukan sendiri kriteria inklusi dan eksklusi yang wajib dipenuhi oleh calon responden. Teknik ini cocok digunakan saat Anda memerlukan data mendalam dari sumber yang sangat relevan.

Sebagai contoh, jika Anda meneliti efektivitas sistem informasi perpustakaan digital, Anda tidak bisa memilih sembarang mahasiswa. Anda perlu menetapkan kriteria seperti mahasiswa yang sudah terdaftar minimal satu tahun dan aktif meminjam buku. Dengan kata lain, sampel dipilih sengaja karena dianggap memiliki informasi khusus yang dibutuhkan.

Terlebih lagi, teknik ini sangat ampuh untuk penelitian kualitatif maupun kuantitatif dengan populasi spesifik. Metode ini memastikan bahwa data yang terkumpul benar-benar kaya akan fakta relevan. Akibatnya, efisiensi waktu dan anggaran penelitian dapat tercapai secara maksimal.

Secara umum, kriteria dalam purposive sampling dapat mencakup pengalaman kerja, latar belakang pendidikan, hingga karakteristik demografi tertentu. Oleh sebab itu, peneliti wajib mendokumentasikan alasan pemilihan kriteria tersebut di bagian metodologi penelitian.

Apa Itu Accidental Sampling dan Bagaimana Karakteristiknya?

Accidental sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan ketidaksengajaan atau kemudahan akses bagi peneliti di lapangan. Peneliti mengumpulkan data dari siapa saja yang kebetulan dijumpai pada saat dan tempat penelitian berlangsung. Oleh sebab itu, teknik ini kerap dinamakan pula sebagai convenience sampling atau incidental sampling.

Sebagai contoh nyata, bayangkan Anda sedang melakukan survei kepuasan konsumen di sebuah pusat perbelanjaan. Anda berdiri di pintu keluar dan membagikan kuesioner kepada setiap pengunjung yang melintas. Siapa pun yang bersedia mengisi formulir saat itu langsung menjadi bagian dari sampel Anda.

Di satu sisi, metode ini menawarkan kemudahan yang luar biasa dalam proses pengumpulan data. Peneliti tidak memerlukan daftar anggota populasi yang rumit. Selain itu, durasi pengumpulan data menjadi jauh lebih singkat dan menghemat biaya operasional penelitian.

Namun demikian, accidental sampling memiliki kelemahan utama berupa tingkat bias yang tinggi. Hasil penelitian dari teknik ini tidak dapat digeneralisasi untuk mewakili seluruh populasi secara luas. Oleh karena itu, teknik ini biasanya hanya disarankan untuk penelitian eksploratif atau studi pendahuluan.

Tabel Perbedaan Purposive Sampling vs Accidental Sampling

Untuk memudahkan Anda dalam membandingkan kedua teknik sampling ini, kami telah menyusun ringkasan parameter utama. Berikut adalah perbandingan komprehensif antara kedua teknik tersebut:

Parameter PerbandinganPurposive SamplingAccidental Sampling
Dasar Penentuan SampelPertimbangan dan kriteria khusus penelitiKebetulan dan kemudahan akses di lapangan
Kriteria RespondenSangat spesifik (ada kualifikasi)Tidak ada kriteria spesifik (siapa saja)
Tingkat BiasLebih terkoordinasi dan terukurCenderung tinggi karena representasi acak spontan
Tujuan UtamaMendapatkan data mendalam dan relevanMendapatkan data secara cepat dan efisien
Generalisasi HasilTerbatas pada kelompok dengan kriteria samaSangat terbatas dan tidak disarankan digeneralisasi
Jenis Penelitian RelevanStudi kualitatif, studi kasus, eksperimen khususSurvei opini publik, riset eksploratif, studi awal

Contoh Kasus Penerapan dalam Skripsi dan Jurnal Ilmiah

Penerapan kedua teknik ini dapat dijelaskan melalui skenario riset nyata di lingkungan akademik. Sebagai ilustrasi pertama, seorang mahasiswa program studi Manajemen melakukan riset tentang kepemimpinan krisis di perusahaan manufaktur. Peneliti tersebut memilih metode purposive sampling dengan kriteria responden manajer yang memiliki pengalaman minimal 5 tahun.

Melalui pendekatan purposive ini, data yang diperoleh sangat mendalam dan berbobot tinggi. Jawaban dari para manajer tersebut memberikan wawasan objektif yang menjawab secara langsung rumusan masalah penelitian. Hasil riset semacam ini memiliki peluang besar untuk lolos evaluasi substansi di platform pengindeks seperti Scopus atau Garuda.

Sebaliknya, ilustrasi kedua melibatkan mahasiswa ilmu komunikasi yang meneliti persepsi awal masyarakat terhadap program acara televisi baru. Peneliti berdiri di stasiun kereta api dan meminta tanggapan dari para penumpang yang sedang menunggu kedatangan kereta. Dalam kasus ini, accidental sampling digunakan karena sampel diambil dari siapa saja yang secara tidak sengaja ditemui di lokasi tersebut.

Dengan memahami kedua ilustrasi di atas, Anda dapat menilai teknik mana yang paling selaras dengan rancangan riset Anda. Keputusan ini harus didasarkan pada tujuan akhir penelitian serta keterbatasan sumber daya yang Anda miliki.

Kesalahan Umum Saat Memilih Teknik Sampling

Banyak peneliti pemula sering kali terjebak dalam kesalahan konseptual ketika menetapkan teknik sampling. Salah satu kesalahan paling lazim adalah menyebut tekniknya sebagai purposive sampling, tetapi dalam praktiknya melakukan accidental sampling.

Sebagai contoh, peneliti menetapkan kriteria sampel dalam skripsi, tetapi saat di lapangan ia mengambil siapa saja yang bersedia tanpa memverifikasi kualifikasi responden. Hal ini dapat menurunkan kredibilitas penelitian Anda di mata penguji skripsi atau peninjau jurnal ilmiah.

Kesalahan umum lainnya adalah memaksakan menggeneralisasi hasil dari sampel accidental ke seluruh populasi besar. Mengklaim bahwa hasil survei terhadap 50 orang yang ditemui di jalan mewakili seluruh warga kota adalah kekeliruan metodologis yang serius.

Untuk menghindari kesalahan ini, Anda harus jujur dalam mendokumentasikan batasan penelitian. Jika Anda mengumpulkan sampel secara aksidental, sebutkan secara terbuka batasan generalisasinya dalam laporan ilmiah Anda.

Langkah Praktis Memilih Teknik Sampling yang Tepat

Agar Anda dapat menentukan teknik sampling secara akurat, ikuti panduan langkah demi langkah berikut ini:

  1. Identifikasi Tujuan Penelitian: Tentukan apakah riset Anda bertujuan untuk mendalami fenomena secara spesifik atau hanya memetakan gambaran umum secara cepat.
  2. Definisikan Target Populasi: Buat batasan populasi secara jelas agar Anda tahu apakah anggota populasi memiliki karakteristik khusus atau homogen.
  3. Tentukan Kriteria Spesifik: Jika penelitian membutuhkan keahlian atau pengalaman tertentu, susun kriteria inklusi dan eksklusi untuk menerapkan purposive sampling.
  4. Evaluasi Aksesibilitas dan Sumber Daya: Pertimbangkan ketersediaan waktu, tenaga, dan biaya pengumpulan data di lapangan.
  5. Konsultasikan dengan Pembimbing: Diskusikan pilihan metodologi Anda bersama dosen pembimbing untuk memastikan keselarasan dengan instrumen penelitian.

Tips Menuliskan Metodologi Sampling pada Bab 3 Skripsi

Saat menyusun Bab 3 naskah karya ilmiah, Anda harus menjelaskan alasan pemilihan teknik sampling secara rasional. Jangan hanya menuliskan definisi teori dari buku teks tanpa menyertakan argumen kontekstual penelitian Anda.

Selain itu, cantumkan perincian kriteria sampel secara eksplisit jika Anda menggunakan purposive sampling. Tuliskan kriteria tersebut dalam poin-poin yang mudah dipahami oleh pembaca maupun penguji.

Dengan menyajikan argumen metodologis yang kuat, naskah karya tulis ilmiah Anda akan terlihat jauh lebih profesional dan kredibel. Langkah ini akan memudahkan proses penelaahan oleh tim penguji skripsi maupun editor jurnal nasional.

Pertanyaan Umum

Apakah purposive sampling bisa digunakan untuk penelitian kuantitatif?

Bisa, purposive sampling dapat digunakan dalam penelitian kuantitatif terutama jika populasi target memiliki kriteria spesifik dan jumlah populasi tidak diketahui pasti.

Mengapa accidental sampling sering dianggap memiliki tingkat bias yang tinggi?

Teknik ini memiliki bias tinggi karena pengambilan sampel didasarkan pada keberadaan spontan responden di tempat tertentu, sehingga tidak mewakili keragaman populasi secara menyeluruh.

Mana yang lebih baik antara purposive sampling dan accidental sampling?

Tidak ada yang secara mutlak lebih baik, karena pemilihan bergantung pada tujuan riset, jenis data yang dibutuhkan, serta ketersediaan sumber daya peneliti.

Bagaimana cara menentukan jumlah sampel pada non-probability sampling?

Jumlah sampel ditentukan berdasarkan kecukupan data, rasio variabel, atau pedoman literatur metodologi yang dirujuk oleh peneliti. Butuh bantuan langsung dari tim ahli? Hubungi Tim JagoJurnal via WhatsApp di 0856-4369-5389 untuk konsultasi gratis.

admin, garuda
Kontributor · Riset Akademik & Publikasi Ilmiah

Tim Redaksi JagoJurnal menyusun panduan akademik berdasarkan riset kata kunci dan kebutuhan nyata pembaca seputar skripsi, tesis, dan publikasi jurnal ilmiah.

Butuh bantuan lebih lanjut?

Jangan biarkan revisi kecil menahan kelulusanmu

Tim JagoJurnal siap bantu bagian teknis yang paling sering bikin proses jadi lambat — bukan menulis ulang karyamu, tapi membantu kamu menyempurnakannya sendiri.

01Proofreading jurnal & makalah
02Bantuan editing & formatting skripsi & tesis
03Olah data & statistik (SPSS, Eviews, dll)
04Bantuan editing & formatting jurnal & makalah
Konsultasi gratis via WhatsApp

Konsultasi awal tanpa biaya. Respons cepat pada jam kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *